<p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">DALUNG (24/07/2026) – </span></span></b><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Meriahnya pagelaran Pawai Ogoh-ogoh di Desa Adat Dalung tidak luput dari partisipasi Generasi muda-mudi yang terus semakin kratif dalam mengekspresikan seni. Hal ini ditunjukkan melalui bagaimana mereka tidak hanya menjadikan Malam Pengerupukan bagian dari tradisi menjelang Hari Raya Nyepi, tetapi juga berubah menjadi panggung kreativitas bagi generasi muda Bali. Melalui pertunjukan seni, atraksi, hingga pawai ogoh-ogoh, para muda-mudi tampil penuh semangat mengekspresikan ide dan kreativitas mereka di hadapan masyarakat yang berkumpul di Catus Pata Banjar Kung (18/3).</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Berbagai ogoh-ogoh dengan bentuk dan cerita yang beragam ditampilkan dalam pawai Pengerupukan. Tidak sekadar menghadirkan visual yang menarik, setiap karya juga memuat pesan filosofis yang menggambarkan kehidupan, nilai budaya, hingga simbol unsur-unsur negatif atau bhuta kala yang harus dinetralisir. Kreativitas generasi muda terlihat dari detail karya, konsep pertunjukan, hingga cara mereka menghidupkan suasana malam pengerupukan.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Selain pawai ogoh-ogoh, suasana semakin meriah dengan berbagai pertunjukan yang dibawakan para pemuda. Iringan musik, atraksi, hingga semangat kebersamaan membuat malam pengerupukan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat. Energi dan antusiasme generasi muda menjadikan tradisi ini terasa hidup sekaligus menunjukkan bahwa budaya Bali terus berkembang di tangan anak muda</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Pengerupukan sendiri merupakan tradisi yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada malam tersebut, masyarakat mengarak ogoh-ogoh sebagai simbol unsur negatif atau bhuta kala yang kemudian diakhiri dengan prosesi pembakaran sebagai bentuk penyucian diri dan lingkungan. Tradisi ini memiliki makna untuk menetralisir energi negatif agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan kehidupan.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Di balik kemeriahan yang ditampilkan, proses pembuatan ogoh-ogoh juga menjadi ruang kebersamaan antar generasi muda dan masyarakat. Mulai dari merancang konsep, membuat detail karya, hingga mempersiapkan pawai dilakukan secara gotong royong dan penuh dedikasi untuk melanggengkan jiwa seni dan budaya juga tradisi Bali. Hal tersebut menjadikan pengerupukan bukan hanya sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga wadah mempererat solidaritas dan melestarikan budaya Bali secara turun-temurun.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Melalui kreativitas yang ditampilkan pada malam pengerupukan, generasi muda tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menunjukkan peran mereka dalam menjaga dan meneruskan warisan budaya Bali di tengah perkembangan zaman.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Gede Arya Budhi Pradnyana selaku Ketua ST Yowana Dharma Wiweka menjelaskan bahwa tema ogoh-ogoh yang diangkat kali ini adalah Brahala, yaitu jelmaan raksasa besar yang muncul saat tokoh suci melakukan Triwikrama. <b><i>“Tema ini menggambarkan kekuatan spiritual yang muncul sebagai bentuk kemarahan suci dalam menegakkan kebenaran,”</i></b> tuturnya.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Sementara itu, Ketua ST Yowana Eka Dharma Sentana Perumahan Wahana Graha, Bli Agus Rava, menjelaskan bahwa tema ogoh-ogoh yang diangkat adalah “Kroda Luwu.” Ia menggambarkan sosok makhluk yang tidak lahir dari rahim bumi, melainkan terbentuk dari tumpukan plastik dan limbah busuk yang dibuang manusia selama bertahun-tahun. <b><i>“Tubuhnya yang besar, berbau menyengat, serta dikelilingi lalat bermata merah menjadi simbol kemarahan alam akibat ulah manusia yang tidak menjaga lingkungan,”</i></b> pungkasnya. </span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Melalui berbagai tema tersebut, para pemuda tidak hanya menampilkan kreativitas dalam seni, tetapi juga menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Diharapkan, melalui karya ogoh-ogoh ini, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">(KIMDLG-005).  </span></span></span></b></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p>
Bukan Sekadar Pawai, Aksi Muda-Mudi di Malam Pengerupukan Curi Perhatian
24 Jul 2026